Strategi & Teknik Menyampaikan Materi Pelatihan

PENGANTAR

Sebuah pelatihan  berjalan sukses salah satu faktornya adalah kemampuan seorang  trainer dalam menyampaiakan materi. Dengan metode penyampaian materi yang menarik, unik dan tepat sasaran diharapkan peserta pelatihan dapat menangkap maksud dan tujuan dari apa yang disampaiakan oleh trainer. Pada sebuah pelatihan faktor penyampaian materi menjadi satu hal yang sangat penting bagi keberhasilan peserta pelatihan dalam memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dari sebuah pelatihan.

Pelatihan yang diselenggarakan untuk mendukukung Progam Menabung Pohon diharapkan juga mendapatkan hasil yang maksimal. Hal ini karena peserta pelatihan nantinya akan menjadi seorang fasilitator yang bertugas memfasilitasi dan mendampingi kelompok sasaran program menabung pohon agar esuai dengan visi misi dan tata nilai Pertamina Foundation.

Sebelum masuk dalam strategi penyampaian materi, seorang trainer seharusnya memenuhi syarat- syarat sebagai berikut :

  1. Memiliki rasa humor. Humor adalah salah satu cara untuk membuat peserta tertarik untuk terus mengikuti jalannya pelatihan. Tanpa humor, dapat dibayangkan betapa garingnya sebuah training berjalan. Buat peserta tertawa dengan candaan sehat yang edukatif.
  2. Penguasaan materi. Ini adalah hal vital yang sangat penting untuk dimiliki seorang trainer. Tak hanya menguasai materinya, seorang trainer juga harus menguasai cara menyampaikan materi tersebut dengan baik. Pilihlah metode atau gaya yang sekiranya dapat diterima oleh audiens atau peserta. Perbanyaklah referensi yang kuat dan kuasai slide yang akan ditampilkan.
  3. Penggunaan bahasa yang mudah dimengerti. Jangan menggunakan istilah golongan tertentu. Kita tidak boleh lupa dengan identitas peserta secara umum. Jika memang diadakan di sebuah kelompok masyarakat tertentu, misalnya di kelompok sasaran yang berada di pelosok desa, maka istilah lama menyelesaikan masalah tanpa masalahboleh digunakan.
  4. Hadapi peserta dengan luwes, tidak kaku atau ‘nervous’. Saat hal ini terjadi, seorang trainer dapat lupa dengan semua hal yang ingin dia sampaikan dan selanjutnya training tidak akan berlangsung sesuai dengan yang diharapkan. Kadangkala seorang trainer dapat menyiapkan sebuah catatan kecil agar selama training ia dapat menyampaikan materi lebih sistematis dan terstruktur.
  5. Berikan waktu yang cukup bagi peserta untuk berpikir dan menjawab. Buatlah waktu belajar fleksibel dengan kebutuhan peserta. Jangan lupa, semua materi yang disampaikan haruslah memiliki kesinambungan satu sama lain agar tujuan yang ingin dicapai dapat terealisasi dengan baik.
  6. Perhatikan kondisi diri sendiri. Saat seorang trainer merasa bosan, biasanya peserta juga memiliki perasaan yang sama. Saat hal ini terjadi, coba lakukan beberapa permainan singkat yang dapat menggugah kembali semangat peserta.
  7. Perhatikan bahasa tubuh peserta. Tidak perlu menanyakan “apakah anda bosan dengan training ini?”atau ”apakah anda mengantuk?”. Saat melihat bahasa tubuh peserta yang tampak bosan atau mengantuk atau apapun yang kurang kondusif, segera lakukan beberapa permainan ringan. Buat peserta bergerak dan atau berteriak.
  8. Bersedia bekerja lebih lama dari waktu yang direncanakan. Seorang trainer lebih baik datang ke venuelebih awal untuk menguasai lokasi terlebih dahulu. Pengetahuan menyeluruh tentang lokasi dimana ia mengisi training merupakan salah satu poin penting yang membuat peserta merasa bahwa mereka hadir dalam ‘rumah’ si trainer –dan tentu saja hal ini dapat memunculkan perasaan yang lebih dalam hati peserta.
  9. Siap berdiri sepanjang hari. Meski beberapa trainer disiapkan kursi, seringkali mereka tidak duduk agar gaya penyampaiannya lebih leluasa. Selain itu, meski dalam kondisi kurang fit, seorang trainer yang sedang mengadakan training haruslah berusaha menampilkan yang terbaik. Selama ia masih mampu, maka the show must go on!
  10. Siap menghadapi segala kejadian yang tidak terduga. Terkadang, materi yang sudah disusun sedemikian rupa harus diganti secara mendadak untuk menyesuaikan dengan kondisi peserta. Karena itulah, khazanah seorang trainer haruslah luas agar di momen tertentu, materi yang hendak disampaikan bisa segera ditambal dengan materi lain yang sekiranya sesuai.
  11. Siap memberi tanpa mengharapkan balasan apa-apa. Bekerjalah yang tulus dengan niat yang lurus pula. Tak jarang seorang trainer harus rela melepas waktu istirahat dan makan siangnya untuk mendengarkan keluh kesah peserta. Bagaimanapun, di mata peserta, seorang trainer dianggap sebagai penyembuhdan kadang peserta melupakan bahwa seorang trainer juga memiliki kebutuhan mereka sendiri.
  12. Siap menjadi teladan sepanjang waktu. Ibarat seorang guru yang kemana-mana akan terus dinilai, begitupula dengan seorang trainer. Ia akan kehilangan kredibilitas manakala dianggap tidak sempurna dalam memberikan contoh dari apa yang diajarkannya. Jika salah, akui salah dan luruskan. Seorang trainer tidak bisa membiarkan peserta mendapat informasi yang salah darinya.
  13. Siap mengatasi masalah logistik. Meski sudah ada bidangnya –mungkin, ia tetap harus mengetahui seluk beluk training bahkan sampai hal terkecil.
  14. Mampu mendorong peserta training agar kelak mengaplikasikan materi yang telah ia sampaikan dan berkomitmen dalam menjalankannya. Selain menjadi nilai manfaat bagi peserta. Secara tidak langsung peserta juga sudah melakukan promosi training. Agar hal ini terjadi, seorang trainer harus memberikan anjuran yang menggugah dan memikat bagi peserta.
  15. Mampu mengatasi kegagalan sebuah training. Tidak semua training berjalan mulus. Maka, saat yang terjadi adalah hal yang tidak diharapkan, seorang trainer harus mampu menganalisis ketidakberhasilan itu dan mencoba merencanakan sesuatu yang baru sebagai solusi.

STRATEGI PENYAMPAIAN MATERI PELATIHAN

Setelah mengetahui syarat untuk menjadi trainer yang handal, maka langkah berikutnya bagi seorang trainer adalah mengetahui dan memahami strategi penyampaian materi. Hal ini penting agar tidak terjadi “jet lag” yaitu istilah bagi trainer yang kehilangan orientasipada saat memberikan materi. Adapun strategi penyampaian materi yang bisa diterapkan pada pelatihan program menabung pohon adalah sebagai berikut :

  1. Strategi urutan penyampaian simultan

Jika trainer harus menyampaikan lebih dari satu materi pelatihan, maka menurut strategi urutan penyampaian simultan, materi secara keseluruhan disajikan secara serentak, kemudian diperdalam satu demi satu (metode global).

  1. Strategi urutan penyampaian suksesif

Jika trainer harus menyampaikan materi pelatihan lebih daripada satu, maka menurut strategi urutan panyampaian suksesif, sebuah materi satu demi satu disajikan secara mendalam baru kemudian secara berurutan menyajikan materi berikutnya secara mendalam pula.

SRATEGI MENYAMPAIKAN MATERI MENURUT JENIS MATERINYA

Secara garis besar, langkah-langkah menyampaikan materi pelatihan sangat bergantung kepada jenis materi yang akan disajikan. Langkah-langkah dan strategi yang dijabarkan dalam panduan ini adalah masih dalam taraf minimal. Pengembangannya, diserahkan pada kreativitas trainer untuk mendapatkan hasil pelatihan yang berkualitas, terarah dan terukur.

  1. Strategi Penyampaian Fakta

Jika trainer harus manyajikan materi pembelajaran jenis fakta (nama-nama benda, nama tempat, peristiwa sejarah, nama orang, nama lambang atau simbol, dsb.).

Langkah-langkah membelajarkan materi pembelajaran jenis “Fakta”:

(a) Sajikan fakta

(b) Berikan bantuan untuk materi yang harus dihafal

(c)  Berikan soal-soal mengingat kembali (review)

(d) Berikan umpan balik

(e) Berikan tes.

  1. Strategi penyampaian konsep

Materi pembelajaran jenis konsep  adalah materi berupa definisi atau pengertian. Tujuan mempelajari konsep adalah agar peserta pelatihan paham, dapat menunjukkan ciri-ciri, unsur, membedakan, membandingkan, menggeneralisasi, dsb.

Langkah-langkah menyampaikan materi pelatihan jenis  ”Konsep”:

(a) Sajikan Konsep

(b) Berikan bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri pokok, contoh dan bukan contoh)

(c)  Berikan soal-soal latihan dan tugas

(d) Berikan umpan balik

(e) Berikan tes.

  1. Strategi penyampaian materi pembelajaran prinsip

Termasuk materi pelatihan  jenis prinsip adalah dalil,  hukum (law), postulat, teorema, dsb.

Langkah-langkah mengajarkan atau menyampaikan materi pembelajaran jenis “prinsip”

(a) Berikan prinsip

(b) Berikan bantuan berupa contoh penerapan  prinsip

(c) Berikan umpan balik

(d) Berikan tes.

  1. Strategi Penyampaian Prosedur

Tujuan mempelajari prosedur adalah agar peserta pealtihan dapat melakukan atau mempraktekkan prosedur tersebut, bukan sekedar paham atau hafal. Termasuk materi pelatihan  jenis prosedur adalah langkah-langkah membuat proposal, pelaporan atau rekomendasi secara urut. Langkah-langkah mengajarkan prosedur meliputi:

  1. menyajikan prosedur
  2. pemberian bantuan dengan jalan mendemonstrasikan bagaimana      cara melaksanakan prosedur
  3. memberikan latihan (praktik)
  4. memberikan umpanbalik
  5. memberikan tes.
  1. Strategi penyampaian materi aspek sikap (afektif)

Termasuk materi pembelajaran aspek sikap (afektif) adalah pemberian respons,

penerimaan suatu nilai, internalisasi, dan penilaian. Beberapa strategi mengajarkan

materi aspek sikap antara lain:  penciptaan kondisi, pemodelan atau contoh,

demonstrasi, simulasi, dan perubahan pola pikir.

Advertisements
This entry was posted in Materi Pelatihan TOT and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s